Showing posts with label religious.. Show all posts
Showing posts with label religious.. Show all posts

Monday, March 9, 2009

I WILL MOVE THE ROCK


A man was sleeping at night in his cabin when suddenly his room filled with light and the Savior appeared. The LORD told the man he had work for HIM to do, and showed him a large rock in front of his cabin. The LORD explained that the man was to push against the rock with all his might.

This the man did, day after day. For many years he toiled from sun up to sun down, his shoulders set squarely against the cold, massive surface of the unmoving rock, pushing with all his might. Each night the man returned to his cabin sore and worn out, feeling that his whole day had been spent in vain.

Seeing that the man was showing signs of discouragement, Satan decided to enter the picture by placing thoughts into the man's mind such as: "You have been pushing against that rock for a long time, and it hasn't budged. Why kill yourself over this? You are never going to move it." Thus giving the man the impression that the task was impossible and that he was a failure, these thoughts discouraged and disheartened the man even more. "Why kill myself over this?" he thought. "I'll just put in my time, giving just the minimum effort and that will be good enough."

And that he planned to do until one day he decided to make it a matter of prayer and take his troubled thoughts to the GOD. "LORD," he said, "I have labored long and hard in your service, putting all my strength to do that which you have asked. Yet, after all this time, I have not even budged that rock by half a millimeter. What is wrong? Why am I failing?"

To this the LORD responded compassionately, "My friend, when I asked you to serve me and you accepted, I told you that your task was to push against the rock with all your strength, which you have done. Never once did I mention to you that I expected you to move it. Your task was to push. And now you come to me, with your strength spent, thinking that you have failed. But, is that really so? Look at yourself. Your arms are strong and muscled, your back sinewed and brown, your hands are callused from constant pressure, and your legs have become massive and hard. Through opposition you have grown much and your abilities now surpass that which you used to have. Yet you haven't moved the rock. But your calling was to be obedient and to push and to exercise your faith and trust in My wisdom. This you have done."

"I, my friend, will move the rock," says the LORD. At times when we hear a word from GOD, we tend to use our own intellect to decipher what He wants, when actually what GOD wants is just simple obedience and faith in HIM… "By all means, exercise the faith that moves mountains; but it is still GOD who moves the mountain."***

(Author: Unknown)

Friday, January 30, 2009




Bible Reading : Proverbs 3 : 5-6

Trust in the Lord with all your heart. Never

rely on what you think you know. Remember

the Lord in everything you do, and He will

show you the right way.


Note from the Life Application Bible :

When we have an important decision to make, we

sometimes feel that we can't trust anyone - not

even God. But God knows what is best for us. He

is a better judge of what we want than we are.

We must trust Him completely in every choice we

make.


friends, always be in touch with God. Trust HIM, LOVE HIM, accept whatever HE gave to you so that your life will be blessed. AMEN:]
JBU all~

Sunday, November 2, 2008

Pernahkah?


Pernahkah kamu berpikir mengapa kamu menjadi kamu?
Pernahkah terpikir mengapa kamu memiliki banyak saudara kandung?
Pernahkah terpikir mengapa kamu bahkan tidak memiliki siapapun?
Pernahkah terpikir mengapa kamu kesepian?
Mengapa kamu dicintai?
Mengapa kamu dibenci?
Mengapa kamu menjadi orang beriman?
Atau mungkin menjadi anak nakal yang hanya bermain-main dan tidak pernah serius dalam hal apapun?
Mengapa kita menjadi kita?
Mengapa tidak menjadi orang lain yang kehidupannya jauh di atas?
Jauh lebih sempurna?

Pernahkah terpikir olehmu bahwa orang lain pun mengatakan demikian akan hidupnya?
Padahal mereka jauh lebih hebat dalam segala hal.
Mereka dapat dikata memiliki kekayaan yang luar biasa
Mereka dapat dikata memiliki kelebihan yang beraneka ragam
Mereka dapat dikata hidupnya makmur dan sejahtera

Orang lain pun mungkin iri akan kehidupan kita
Kehidupan masing-masing yang terlihat sangat berbeda dari sesungguhnya
Hanyalah orang-orang yang tidak pernah merasa PUAS akan pemberianNya'lah demikian
Mereka selalu mengeluh
Mengeluh dan tidak percaya
Bahwa Tuhan Maha Adil dan Penyayang
Percayalah
Terimalah apa adanya

Kisah Pohon Apel

Suatu masa, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang dedaunan. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.


"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... Tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Maaf, aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." sahut pohon apel. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang-batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring! Peluklah akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." jawab pohon apel. Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

---
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita! Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.